0

Keyakinan yang Tidak Sadar Kita Yakini

Beberapa hari yang lalu, saya sempat menonton sebuah drama Korea yang di dalamnya banyak sekali hubungannya dengan bidang yang saat ini membuat saya penasaran.

Di film It’s Okay, That’s Love ini saya melihat bagaimana sebuah persepsi dari sebuah kejadian sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Persepsi dari kejadian yang mungkin dianggap beberapa orang adalah hal biasa ditarik menjadi sebuah keyakinan yang bahkan tidak disadari oleh si pemilik keyakinan.

Sedikit hal yang cukup membekas bagi saya di film ini adalah:

Ibu si pemeran utama yang selalu membersihkan terus-terusan lantai rumahnya padahal lantai rumah itu sudah sangat bersih. Dia membersihkannya terus menerus seakan-akan lantai rumahnya sangat kotor.

Ternyata, dua puluh tahun sebelumnya saat si Ibu dipukuli dan disiksa suaminya yang seorang pemabuk dan pemarah. Dia berlari dan bersembunyi ke sebuah WC kayu di dekat bukit.

Ibu ini menghabiskan waktunya hari itu di sana, bersembunyi karena ketakutan akan disiksa suaminya lagi. Menjelang sore, dia mendengar suara suaminya mendekati WC itu, berteriak memaki-maki.

Ibunya takut kalau yang datang adalah suaminya dan akan memukuli dan menyiksanya lagi. Akhirnya, dia memutuskan mencemplungkan diri ke bawah WC, tempat penampungan kotoran.

Sejak saat itu sang Ibu merasa bahwa semua hal terasa kotor. Dia merasa bahwa kotoran yang menempel saat itu terus melekat dan tidak pernah terlepas dari kulitnya.

Anak itu, sama seperti ibunya sangat ketakutan, melihat WC kecil itu, sang anak juga akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di sana juga. Saat dia masuk ke sana ternyata…

Ibunya ada di sana.

Anaknya, lain lagi….

Sejak kejadian itu, dia tidak bisa tidur di tempat lain selain WC. Dia akan mengalami mimpi buruk dan dadanya akan terasa sesak jika dia tertidur di tempat lain selain WC.

Tanpa sadar, sang Anak menarik kesimpulan bahwa WC adalah tempat yang paling aman dan tempat selain itu adalah tempat yang tidak aman.

Dari sini saya tahu bahwa:

Ternyata alam bawah sadar (pikiran bawah sadar) kita sangat baik, mereka serta merta melindungi sang pemilik pikiran.

Namun kadang-kadang cara yang dilakukan oleh si alam bawah sadar ini adalah bodoh.

Bisa dikatakan, pikiran bawah sadar itu sangat cerdas sekaligus sangat bodoh.

Maksudnya?

Begini, si Anak merasa terancam jika tidur di tempat lain, dia mungkin takut bahwa orang lain akan memperlakukannya seperti yang dilakukan ayahnya dulu, memukuli dan menendangnya.

Dia merasa tempat yang paling aman adalah WC, karena di sini dia bisa kabur dari ayahnya. Dirinya di masa kecil menyimpulkan bahwa tempat paling aman adalah WC.

Karena hal itu, ketika dia berada atau tertidur di tempat lain, pikiran bawah sadarnya merasa si pemilik ini terancam dan tidak aman. Pikiran bawah sadarnya tidak ingin si pemilik terluka.

Akhirnya, pikiran bawah sadar membuat tubuh si Anak merasa sesak nafas dan mengalami mimpi buruk agar dia menjauhi ‘tempat berbahaya’ dan tetap aman.

Inilah kenapa saya bilang pikiran bawah sadar itu sangat cerdas sekaligus juga bodoh.

Dia melindungi si pemiliki pikiran dengan cara menyakitinya.

0

Serba-Serbi PPL 2016

Ini akhir Juli, tepat beberapa minggu setelah libur lebaran 2016. Kita semua memasuki lingkungan baru, di mana semua orang tampak asing dan baru.

Ini akhir Juli, saat musim hujan dimulai, jalan-jalan nampak basah, udara terasa sejuk dan daun-daun terlihat lebih hijau.

Ini akhir Juli, saat dimana semua orang mulai belajar menjadi guru yang sebenarnya. Saat itu juga muncul banyak cerita, bukan hanya dari satu dua orang tapi lebih dari itu. Cerita yang mengundang gelak tawa, haru bahkan menyayat hati.

Inilah akhir, Juli saat semua cerita itu dimulai…..

Ini adalah kumpulan cerita terpilih yang saya dengar berdasar pengalaman teman-teman saya semasa PPL yang semoga bermanfaat bagi siapa saja yang sudah membaca.

Hampir setiap hari dalam seminggu, suara-suara sepatu pantofel keras terdengar di lorong asrama saat subuh. Ya, saat matahari masih berselimut hitam dan udara pagi masih sangat dingin. Para pemilik sepatu pantofel terdengar berjalan tergesa-gesa keluar. Bagi mereka tidak ada kata terlambat karena masih mengantuk dan ingin tidur. Mereka saat ini berperan sebagai seorang guru yang harus mencontohkan apa yang baik pada murid-muridnya, disiplin waktu, itu pointnya di sini. Kalian harus tau betapa sulitnya mengubah kebiasaan ini bagi oknum-oknum yang punya jam karet. Tapi, demi murid-muridnya mereka berusaha (keras sekali) untuk tidak menjadi si jam karet lagi.

Point 1, PPL itu bukan hanya mengubah pandangan siswa bahwa hampir tidak ada guru yang akan datang tepat waktu tetapi juga membantu calon guru PPL yang berjam karet untuk menjadi lebih disiplin dan meghargai waktu.

Hampir setiap hari libur di tengah-tengah kumpulan calon guru yang PPL terdengar kata-kata,

“Ya ampun, ini yang dulu dirasain guru kita.”

“Aku merasa bersalah banget, tingkah yang begitu ternyata buat kesel ya.”

“Rasanya pengen minta maaf dulu di pelajaran ini suka begini :(.”

Point 2, PPL itu membuat calon guru PPL yang dulunya tidak sadar, tidak tahu adab belajar jadi tau. Bahwa banyak hal-hal yang mereka anggap sepele ternyata menyakiti hati guru mereka. Setelah tau, banyak dari mereka yang berubah, sikap dan perilakunya dalam mengikuti pelajaran jadi lebih baik.

0

Ketika Cita-Cita Tak Seindah Kenyataannya

Mendengar cita-cita yang diungkapkan anak-anak SD kelas 5 pagi itu membuatku terlempar jauh di masa di mana aku tak sabar menunggu akan jadi apa aku nanti saat dewasa.

“Apa cita-citamu?”

Tak pernah kami bosan dengan pertanyaan itu meskipun setiap tahun saat perkenalan kelas guru pasti meminta kami menjawab pertanyaan itu.

Di zamanku dulu jawaban kami satu kelas hampir sama, murid perempuan kebanyakan akan menjawab menjadi guru sedangkan murid laki-laki akan menjawab menjadi polisi atau TNI. Beberapa akan menjawab menjadi seorang dokter. Lewat 9 tahun jawaban atas pertanyaan itu kini lebih beragam, anak-anak SD itu menjawab akan menjadi pesepak bola, artis, polisi, dokter, guru atau pelukis.

Dulu, setiap kali ditanya mengenai cita-cita jawabanku pasti berubah-ubah, kadang jadi desainer, kadang jadi dokter, kadang jadi polwan, kadang juga jadi guru. Ah manisnya, dulu aku bisa menjawab apa saja dan membayangkannya. Sekarang? Aku terlalu takut.

Semakin tua umur kita, semakin takut kita berharap, semakin takut kita bermimpi. Ya kan?

Saat ini, aku sedang dalam perjalanan mewujudkan cita-citaku (walaupun aku tidak benar-benar yakin apakah ini cita-citaku?). Perjalanan ini sangat panjang dan cukup melelahkan, (hanya) untuk menjadi seorang guru. Sungguh, tidak ada kata-kata hanya dalam perjalanan ini, semuanya begitu berarti, setidaknya bagi seorang aku.

Mungkinkah nanti siswa-siswaku merasa seperti apa yang aku rasakan sekarang, dalam perjalanannya nanti?

Untuk merasa beruntung menemukan orang-orang hebat, menginspirasi, membuat aku berdecak kagum dan mengidolakan beliau-beliau yang aku temui dalam perjalanan ini.

Hanya seseorang yang sedang dalam perjalanan untuk menjadi apa yang disebut manusia kata TuhanNya dan bertemu banyak tangan-tangan Tuhan…….. Ria Rizki…. 🙂

0

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)

Salah satu dari rangkaian sebuah perjalanan untuk memantaskan diri menjadi seorang pendidik.

15032797_1261336700596434_3075041076989485630_n.jpg

Terhitung empat tahun lebih sejak saya memutuskan memilih menjadi seorang pendidik. Dan ini adalah tugas-tugas terakhir yang harus saya jalankan untuk memantaskan diri menjadi seorang pendidik, melaksanakan praktik pengalaman lapangan selama kurang lebih dua bulan.

Finally….

Terima kasih 2 bulan lebihnya.
Saya belajar banyak, sangat banyak.
Terima kasih membuat saya merenung lebih banyak dan lebih dalam; tentang pendidikan, siswa, guru, terlebih tentang diri saya sendiri, ya diri saya sendiri.

Terima kasih telah menjadi kaca yang sangat besar.
Terima kasih telah menjadi ladang ilmu yang menyenangkan sekaligus menegangkan.

Cerita ttg PPL teman2 yg lain; suka, duka, inspirasi mengalir selama 2 bulan ini memenuhi weekend2 yg padat.

Cerita tentang mereka yg menangis krn hampir menyerah menghadapi anak2 yg super badung.

Atau cerita tentang mereka yg luar biasa bahagia hanya dgn melihat anak yg biasanya malas belajar jd sangat rajin.

Atau cerita tentang seabrek koreksian yg bukan hanya banyak tapi bikin sedih krn sebagian besar tdk mengerjakannya dgn baik.

Atau cerita tentang bangun sangat pagi agar tidak telat masuk dan anak2 malah bilang, “Pak/Bu rajin banget, gak pernah telat”.

Atau cerita tentang anak2 yg tidur2an di kelas dan anak2 yg melakukan aktivitas lain saat belajar yg buat kesel.
Semua cerita, cerita kita, yg saya dengar atau saya ceritakan diakhiri selalu dengan kata2, “inilah yg guru kita rasakan dulu”.

PPL….
Pengalaman yg mungkin, membuat semua yg menjalaninya merasa sangat ingin meminta maaf pada guru-gurunya. Pengalaman yg mungkin, membuat semua yg menjalaninya merasa sangat, sangat ingin berterima kasih pada guru-gurunya.

Meskipun kami, para siswa ini merasa sangat terlambat untuk mengucapkan ini..
Kami, sebagai siswa di masa lalu, memohon maaf sebesar-besarnya atas kelakuan kami yg sering menyakiti…
Terima kasih Pak/Bu, atas kerendahan dan kebaikan hati Bapak/Ibu untuk tetap mengajar meski setiap hari terluka atas kelakuan kami..
Semoga selalu dilimpahi kesehatan dan keberkahan

Akhir cerita…
Mungkin cara terbaik untuk membuat orang lain mengerti apa yg kita rasakan adalah membuat orang tsb berada di posisi kita (RR, 2015)

0

Mencetak Dokumen Bolak-Balik Otomatis

Setelah lama bertanya-tanya gimana caranya ngeprint dokumen bolak-balik secara otomatis. Eh kemarin setelah si MYDP otak-atik di Copycino akhirnya nemu juga caranya mencetak dokumen bolak-balik otomatis. Mencetak bolak-balik manual udah tau gimana capeknya kan? Harus ngeprint satu-persatu kertasnya habis itu baru dibalik. Oleh sebab itu, mungkin ini bermanfaat buat temen-temen yang banyak nanya juga:

1. Masukkan kertas di printer

2. Buka file yang akan dicetak

3. Tekan CTRL+P atau pilih menu File dipojok kiri atas dokumen kamu, klik Print

4. Akan muncul jendela Print seperti ini:

Screenshot from 2016-08-04 19:45:51

Pilih merk Printer yang kamu gunakan.

5. Pada option Range atur jumlah halaman yang akan dicetak:

  • Pilih All untuk mencetak semua halaman.
  • Pilih Current page untuk mencetak halaman yang sedang terlihat (tempat kursor berada)
  • Pilih Pages, untuk memilih halaman tertentu untuk dicetak. Masukkan nomor halaman yang diinginkan. Misal: ketikkan 1-10 untuk mencetak halaman 1 sampai 10.

6. Selanjutnya pilih menu Page Setup. Pilih option Only print lalu pilih Even sheets. Screenshot from 2016-08-04 19:50:55

7. Klik Print dan selesai, tinggal tunggu saja.

8. Setelah selesai, angkat kertas yang sudah terisi tadi lalu balik dan letakkan kembali dalam printer . Lakukan lagi langkah 1-5. Pada langkah ke 6 ganti pilihan Even sheets menjadi Odd sheets. Print. Dan selesai.

Untuk penggunaan dengan printer lain, sama saja, bedanya paling letak option Only printnya. Contoh: untuk printer yang ada di Copycino, pilihan Only printnya tepat di bawah pilihan Range, ada pilihan More Options, klik dan akan muncul menu Only printnya. Semoga bermanfaat 🙂

 

0

Jam Karet

jam

Pernah menghadiri rapat yang dijadwalkan mulainya jam sekian tapi baru dimulai 30 menit sampai 1 jam dari waktu yang ditentukan? Pernah?

Sering!

Orang Indonesia itu identik dengan budaya jam karetnya, istilah jam karet begitu populer, hingga orang-orang begitu bangga jika di belakang namanya ditambahkan istilah begitu.

Sekali dua kali, telat itu masih wajar tapi jika dilakukan berulang-ulang masih bisakah disebut sebagai kewajaran?

Sepertinya saya bisa membagi si jam karet ini menjadi 3 tipe:

1. Jadi jam karet karena memang berbakat, melakukan berulang-ulang terus jadi habit.

2. Jadi jam karet karena ikut-ikutan orang tipe 1. Orang seperti ini prinsip telatnya biasanya:

“Ngapain datang tepat waktu, toh kita bakal nungguin mereka yang bakal telat.”

“Buang-buang waktu datang tepat waktu, acaranya juga bakal molor dari yang sudah dijadwalkan.”

3. Orang yang berpotensi jadi jam karet karena keseringan di PHP-in sama si tipe 1 dan 2. Janjian jam berapa datang jam berapa. Dijadwal jam berapa mulainya jadi jam berapa. Tidak tanggung-tanggung pula si tipe 1 dan 2 ini telatnya lebih dari 30 menit. Ngebuat si tipe 3 ini jadi kesal, kecewa bahkan muak.

Sebagai si tipe 3 saya sering mendengar curhatan tipe 3 lainnya. Di banyak rapat saya dan beberapa teman saya yang menganut prinsip bahwa telat itu membuat tidak nyaman sering sekali merasa kecewa, karena banyak sekali anggota rapat yang datang telat. Bukan 1 atau 2, tapi banyak, banyak sekali. Sebagai kaum minoritas yang datang tepat waktu, mengorbankan sarapannya agar tidak telat suara kekecewaan kami tidak terdengar. Saking kecewanya, si tipe 3 ini biasanya tidak akan begitu antusias lagi dalam rapat tersebut, terlanjur kecewa katanya. Belum lagi waktu rapat jadi lebih lama dari yang seharusnya karena waktu mulainya molor. Parahnya, mereka si jam karet ini terlihat tidak merasa bersalah karena sudah telat. Lebih parah lagi saat mereka tanpa rasa bersalah mengungkapkan alasan tak pentingnya.

Tau gak ada loh teman-teman kalian yang melewatkan waktu makan siangnya, melewatkan menjemur pakaiannya, melewatkan membuat PRnya, melewatkan membuat tugasnya hanya untuk menghargai waktu kamu, lebih tepatnya waktu kita, tapi kamu dengan santainya datang setelah membuat dia menunggumu?

Beberapa kali mereka bisa memaklumi, berprasangka baik malah, bahwa mungkin kamu ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan sehingga kamu telat. Tapi, kamu melakukannya terus menerus, lagi dan lagi.

Kamu pernah dengar peribahasa, “waktu adalah uang” kan?

Bagi kamu, waktumu berharga kan? Lalu apakah waktu orang lain tidak berharga?

Kita tidak pernah benar-benar tau apa yang orang lain korbankan hanya untuk datang tepat waktu, menghargai waktunya sendiri, menghargai waktumu juga. Bisa jadi dia kebut-kebutan datang ke tempat pertemuan untuk menepati janjinya. Bisa jadi dia kehilangan kesempatan bertemu dengan orang yang dia jarang temui hanya untuk menepati janjinya padamu. Bisa jadi dia kehilangan makan siangnya, lalu menahan laparnya selama rapat hanya karena dia merasa dia sudah berjanji padamu. Bisa jadi dia mengundur waktu mencuci atau menjemur pakainnya karena dia sudah berjanji padamu, jika waktu molormu dia pakai mencuci atau menjemur selesai rapat mungkin bajunya sudah kering. Mungkin baju itu penting dan akan dipakai segera, tapi karena dia meninggalkannya karena janjinya padamu baju itu tidak kering dan dia bingung harus pakai baju apa.

Sepele ya terbacanya?

Kamu telat, itu hakmu, kami tidak memiliki hak apa-apa terhadap waktumu. Silakan saja telat jika itu memang hanya menyangkut tentangmu, silakan, silakan, gak ada yang larang.

Tapi jika itu menyangkut orang lain, apalagi orang banyak, tolong, tolong untuk tepat waktu. Kita tidak pernah tau apa yang orang lain korbankan untuk menjadi tepat waktu menepati janjinya.

Untuk kamu si tipe 1, silakan telat jika itu hanya menyangkut tentangmu, kalau itu menyangkut orang lain tolong hargai.

Untuk kamu si tipe 2, jika semua orang berpikir sama sepertimu, “ah buat apa datang tepat waktu, acaranya juga bakal tetap telat, kita juga bakal nunggu mereka yang datang telat” apa menurutmu yang akan terjadi? Siapa yang bakal datang tepat waktu jika semua orang berpikir seperti itu? Lalu apa bedanya kamu dengan orang yang buat kamu berpikiran begitu? Sama-sama telat, sama-sama ngeselin, terus apa bedanya?

Untuk kamu si tipe 3, terima kasih atas penghargaan yang tinggi terhadap waktu, semoga kamu tetap menjadi orang yang tepat waktu.

Dan sekali lagi, tipe 1 dan 2, setidak-tidaknya:

JANGAN AJAK ORANG LAIN MENJADI SEPERTI KALIAN.

Hal-hal yang terlihat sepele seperti ini bisa menjadi penghambat atas kesuksesan hidupmu juga kan ya? Kamu menyia-nyiakan waktu orang lain, kalau orang lain marah dan kecewa lalu mendoakan yang tidak-tidak, bagaimana?

Kita tidak pernah tau kebaikan bisa datang dari pintu doa yang mana kan? Bisa dari pemungut barang bekas yang kamu beri banyak botol bekas di rumahmu, bisa dari tukang becak yang kamu belikan nasi bungkus, bisa dari kakek tua penjual sapu yang kamu beli sapunya saat tak ada yang membeli.

Kalau dibalik jadi, kita tidak pernah tau keburukan bisa datang dari pintu doa yang mana kan? Bisa dari orang yang kamu buat kesal karena kamu datang telat, bisa dari orang yang kamu buat kecewa karena dia kehilangan kontrak pentingnya karena janji denganmu molor. Bisa kan?

RRF, Tangerang 4 Agustus 2016.

Sebagai pengingat diri karena berpotensi jadi orang dengan jam karet juga.

 

0

Sebuah Cita-Cita

20131203-170952

“Kak, kakak cita-citanya jadi guru ya?”

Sebuah pesan singkat dari seorang siswa yang pernah saya ajar masuk malam tadi, mengheningkan sejenak jiwa saya. Membuat ingatan saya melesat jauh kembali ke beberapa tahun lalu.

“Cita-cita itu apa? Apakah harus dicapai? Kalau tidak tercapai apa yang harus dilakukan?”

“Lalu, apakah sebuah profesi merupakan representasi sebuah cita-cita? Jadi kalau saat ini saya adalah pengusaha, maka apakah cita-cita saya adalah pengusaha? Apakah arti kata cita-cita sesempit itu?”

Aku tersenyum mengirimkan sebuah pesan balik:

“Kenapa?”

“Pengen tau kak, kami disuruh buat sebuah karangan tentang cita-cita.”

“Terus apa hubungannya dengan kakak?”

“Kalau kakak jawab cita-cita kakak jadi guru, aku juga mau jadi kayak kakak.”

“Jadi guru yang sering marah dan ceramah?”

“Kami tau kok, kakak ngelakuin itu karena sedih liat kami gak paham-paham. Maafin kami ya kak.”

“Terus kalo tau, kenapa gak ada perubahan?”

Baris terakhir kuhapus, tidak jadi kukirim. Aku menarik nafas panjang, lalu tersenyum mengingat semua keputusan yang aku buat beberapa tahun terakhir.

2012, ketika emosi dan pikiran masih labil saya sering mengutuk keputusan saya mengenyam pendidikan di fakultas yang benar-benar tidak saya suka (keguruan).

“Sebelumnya tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benak saya untuk menjadi seorang guru, jujur saja saya anti dengan dunia pendidikan dan kesehatan. Saya bersikeras tidak akan mengenyam pendidikan lanjutan baik di fakultas keguruan ataupun kesehatan.” (RR, 2012)

Dua tahun berlalu dan saya masih sering menyesalkan keputusan di tahun 2012 itu. Keputusan yang saya ambil karena berbagai keterbatasan.

Kenapa pada akhirnya saya harus jadi guru saat saya tidak berbakat sama sekali untuk itu?”

Dan terlintas di 2016, sebuah jawaban….

“Untuk hal-hal yang tidak dapat kita pilih, pasti selalu ada alasan baik kenapa kita terpilih berada di sana.”

Tahun itu, tahun dimana saya masuk ke sini, meskipun saya bisa memilih untuk tidak pergi, saya tetap pergi. Tuhan menakdirkan saya berada di sini dan saya meyetujui rencanaNya. Tuhan ingin saya mengambil begitu banyak pelajaran di sini, tentang ketulusan salah satunya. Lalu kelembutan dan kerendahan hati. Tentang apa yang disebut ilmu padi. Tentang banyak hal yang bahkan sangat sulit saya ungkapkan. Saya mengagumi, banyak hal. Saya belajar, banyak hal. Pelajaran yang mungkin tidak akan pernah saya dapat di tempat lain.

Murid adalah cerminan gurunya. Banyak orang tidak sadar menjadi begitu mengesalkan karna diperlakukan dengan begitu mengesalkan sebelumnya. Dan tampaknya Tuhan ingin menunjukan bahwa masih ada orang-orang yang bisa saya contoh, memutus rantai itu, rantai ‘kekesalan’ yang terus terjadi.

Dan bahkan meskipun saya tidak berbakat, saya masih bisa menjadikannya keterampilan, bukan begitu?

Dan meskipun orang-orang bilang saya salah masuk jurusan,

“Kenapa gak ambil yang ada hubungannya dengan komputer aja dulu?”

“Kenapa gak masuk sastra dan bahasa aja dulu?”

Saya cuma perlu senyum sekarang, saya sudah menandatangani kontrak, hanya perlu mencari tahu apa rencana dibalik kontrak itu. Pasti, pasti ada yang belum saya sadari. Pasti ada alasan, kenapa Tuhan menggerakan hati saya untuk tetap memilih menjadi seperti saat ini sekarang.

“Oh ya, Kakak kapan datang dan ngajar lagi ke sini? Temen-temen pada nanyain kak.”

Bersama sebuah komentar di facebook dari anak yang lain di postingan tentang aplikasi yang menyebutkan apa profesi yang cocok untuk saya, ada tiga profesi yang ditampilkan: guru, ilmuwan dan pengusaha. Dan anak itu berkomentar:

“Guru. biar bisa ngajar di kelas kami lagi.”

Setidak-tidaknya, saya masih ada harapan, kan?

Dan perpesanan malam itu di akhiri dengan:

“Pilihlah cita-cita yang bukan hanya membuat kamu bahagia, tapi juga membahagiakan banyak orang.” (RR, 2016)